Rumah Peninggalan Ibu Fatmawati Dijaga Turun Temurun Oleh Keluarga

BENGKULU – Fatmawati Soekarno yang dijuluki  The First Lady atau ibu negara pertama di Indonesia, merupakan asli orang Bengkulu. Ia lahir dan tinggal di bumi Rafflesia  hingga dewasa dan akhirnya menikah dengan Soekarno, lalu pindah ke Ibu Kota Jakarta. Rumah yang ditinggalkannya di Bengkulu saat ini dijadikan museum dan salah satu tempat wisata.

Marwan Amanadin (75) selaku penjaga dan sepupu kandung dari Fatmawati menuturkan bahwa dirinya sudah menjaga rumah tersebut sejak 20 tahun lalu. Kala itu Gubernur Bengkulu, mengusulkan rumah Fatmawati baikknya dijaga langsung oleh pihak keluarga.

“Jadi Gubernur kala itu yang mengusulkan rumah tersebut menjadi museum ada berpesan. Kalau bisa yang menjaga rumah tersebut masih keturunan keluarga, karena saya sama Fatmawati sepupu kandung. Ayah saya dan ayah Fatmawati saudara,” kata Marwan pada Bengkulunews.co.id Rabu (01/11/23) siang.

Ia menjelaskan, rumah Fatmawati yang dibangun sejak tahun 1915 direnovasi untuk dijadikan museum pada 1990. Tidak banyak yang diubah dari bangunan sebelumnya, beberapa kayu disulap menjadi tembok agar lebih kokoh.

Walaupun begitu dari tahun 1990 hingga sekarang, bangunan tersebut masih berdiri dengan rapi dan kokoh. Bagaimana tidak bahan kayu yang digunakan untuk membuat rumah tersebut, terbuat dari kayu meranti merah. Kayu tersebut sangat kokoh dan terkenal anti rayap.

Tidak hanya itu rumah seluas 12×5 meter tersebut, memiliki dua ruang tamu bagian depan dan dalam. Dua kamar tidur, ruang makan dan kamar mandi. Walaupun terlihat kokoh masih ada beberapa pagar kayu yang keropos maupun seng rusak, namun hal tersebut segera dirapihkan olehnya.

Beberapa barang peninggalan Fatmawatipun masih tersimpan dengan rapih dan awet, bahkan mesin jahit sang pusaka masih ada hingga saat ini. Tentunya salah satu harta karun berharga tersebut dirawat dan dijaga dengan baik.

Baca Juga  Film Tiger 3, Misi Penyelamatan oleh Agen Mata-mata

“Dibersihkan dan dirawat, tidak ada yang khusus. Seperti mesin jahit, kita lap kemudian ditambahkan oli atau minyak. Untuk baju dicuci secara manual,” sambungnya.

Walaupun dijaga oleh keluarga, Marwan mengaku bahwa masih ada campur tangan pemerintah dalam memenuhi perbaikan maupun kebutuhan dari rumah Fatmawati tersebut. Hingga saat ini rumah Fatmawati yang dijaga turun temurun, masih ramai oleh para pengunjung. Rumah yang sudah menjadi musium tersebut dibuka dari jam 08.00 hingga 16.00 wib, setiap hari. Pengunjung yang ingin berkeliling dirumah tersebut, cukup membayar Rp5 ribu peroragnya.

Marwan berharap ke depannya masyarakat, terkhusus anak muda dapat mengenal salah satu peninggalan bersejarah Ibu Fatmawati dan memiliki antusias yang besar terhadapnya.

“Harapannya masyarakat Bengkulu maupun anak muda, tetap antusias. Apa lagi para generasi penerus, dapat melihat rumah peninggalan ibu Fatmawati,” demikian Marwan.

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *